KONVENSI MINAMATA

MINAMATA DISEASE, Keeping the Tragedy in Mind

https://masfreddy.files.wordpress.com/2015/02/ffde9-minamata5.png?w=325&h=270

Mendengar/ membaca kata Minamata sepertinya hampir semua orang akan mengaitkan dengan suatu nama yang berbau Jepang. Dan memang seperti itulah kenyataannya, MINAMATA adalah nama sebuah teluk, yang juga merupakan nama sebuah sungai di Wilayah Kumamoto – Jepang.
Tempat ini menjadi begitu terkenal karena disana pernah terjadi kejadian atau lebih tepatnya bencana yang luar biasa, dimana terjadi pencemaran merkuri(Hg)/ air raksa yang di identifikasi bersumber dari pabrik plastik dengan bahan vinylklorida dan asetaldehida. Pabrik ini membuang merkuri ke teluk Minamata, dan merkuri masuk pila ke sungai Minamata. Ikan yang berada dalam peraian tersebut mengandung 27-102 ppm berat kering merkuri(Hg). Selama tahun 1953-1960 ditemukan keracunan merkuri(Hg) pada 111 orang nelayan yang awalnya merasa cepat lelah, sakit kepala, lengan dan kaki kebas, sulit menelan, penglihatan kabur, dan lapanga penglihatan menciut. Mereka kemudian menjadi sulit mendengar, dan kehilanga koordinasi otot-ototnya. Beberapa orang merasa seperti ada logam di mulut dan penderita diare terdapat banyak sekali, 43 orang diantaranya meninggal akibat infeksi sekunder ataupun sakit yang semakin parah. Selain itu juga ditemukan 19 bayi lahir cacat, namun anehnya si ibu yang mengandungnya ‘hanya’ menderita gejala keracunan yang sangat ringan atau samasekali tidak ada gejala. Bayi-bayi menunjukkan gejala keterbelakangan mental serta lengan dan kaki yang spastik (kakau). Otopsi menunjukkan konsentrasi Merkuri(Hg) yang tinggidi rambut dan lain-lain organ dalam. Kesimpulan yang dikemukakan adalah, bahwa alkil merkuri ditransfer dari ibi lewat plasenta ke janin. Penyakit ini kemudian disebut penyakit Minamata.
KONVENSI MINAMATA
Konvensi Minamata sudah ditandatangani oleh 92 negara, di Kumamoto – Jepang, pada tanggal 10 Oktober 2013, dimana Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut menandatangani Konvensi tersebut.
Konvensi ini berlaku dengan sendirinya pada sembilan puluh (90) hari setelah adanya negara yang ke_lima puluh (50) turut meratitifikasi.

ISI TEKS KONVENSI MINAMATA
Konvensi Minamata memuat pengaturan-pengaturan tentang :
– Suplai dan perdagangan merkuri,
– Produk dan proses yang menggunakan merkuri,
– Penambangan emas skala kecil (artisanal and small-scale gold mining/ ASGM),
– Emisi ke udara dan pembuangan merkuri ke tanah dan air,
– Penyimpanan dan pengelolaan limbah merkuri,
– Peran sektor medis dalam mencegah dan menangani dampak merkuri pada kesehatan,
– Penyusunan rencana implementasi nasional,
– Mekanisme pendanaan,
– Peningkatan kapasitas dan alih teknologi untuk membantu implementasi konvensi.

DAMPAK KONVENSI TERHADAP DUNIA INDUSTRI

1. Sektor industri yang terkena dampak pengaturan Konvensi Minamata :
– Kesehatan; peralatan medis/ alat kesehatan (Hg-thermometer, Hg-based blood pressure, Hg-dental amalgams/ bahan tambal gigi).
– Energi; PLTU dengan batu bara sebagai bahan bakar.
– Tambang; tambang emas skala kecil, oil and gas.
– Manufaktur; industri lampu, industri semen dan industri battere.

2. Dampak Positif
– Mampu memenuhi tuntutan dunia internasional terhadap produk ramah lingkungan
(eco product).
– Mencegah/ mengontrol impor merkuri illegal ke Indonesia khususnya untuk
penambang emas skala kecil (ASGM/ Artisanal and Small-scale Gold Mining).

3. Dampak Negatif
– Adanya Pengaturan Perdagangan Merkuri.
– Adanya Pengaturan penggunaan Merkuri dalam proses produksi.
– Pengaturan pengelolaan limbah merkuri.
– Adanya substitusi bahan dan alih teknologi yang masih mahal.

Merkuri(Hg)/ air raksa merupakan logam berat yang digunakan secara luas dalam berbagai proses dan produk, namun terbatas ijin penggunaannya. Saat digunakan dalam proses, setelah selesai proses, dan/atau setelah habis masa pakai, merkuri lepas ke udara, air dan tanah, atau terdeposisi di tempat lain yang terkadang jauh dari sumbernya.
Merkuri(Hg)/ air raksa dapat ditemui dalam berbagai kegiatan diantaranya di sektor kesehatan, pertambangan emas skala kecil (PESK atau Artisanal and Small-scale Gold Mining/ ASGM), pembakaran batu-bara dan hasil ikutan dari pertambangan emas, minyak dan gas bumi, sementara industri lampu, battere dan semen mewakili sektor manufaktur.
Merkuri(Hg)/ air raksa yang lepas ke lingkungan dapat membentuk senyawa methyl-mercury yang apabila masuk ke dalam hewan dan tubuh manusia dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf, otak, gelisah/gugup, ginjal, kerusakan liver dan cacat lahir pada janin. Merkuri juga bersifat bioakumulasi dan menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang yang tak terpulihkan.

Sosialisasi Persiapan Penerapan Konvensi Minamata di Indonesia – Kementerian Lingkungan Hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s